Panas mentari pagi sudah mulai menyengat di kulitku. suara alunan burung dan suara ayam pagipun sudah terdengar nyaring, berbeda dengan suasana di surabaya yang terdengar hanya suara bunyi mesin beroda, suasana di Kediri sangat sejuk, asri dan sangat nyaman bagiku. Terdengar suara sapu lidi berbunyi mengiringi suara petok.an ayam di pekarangan rumah mbah buyutku ini.
Aku segera berdiri dan membuka jendela kamarku. Ku lihat pemandangan sejuk di pekarangan rumah mbah buyutku mengingatkanku pada sosok beliau. Saat aku masih kecil aku ingat betul setiap pagi mbah buyutku selalu menggendogku dan membawaku main di pekarangan rumah. Biasanya mbah buyut selalu menyanyikan lagu-lagu jawa yang entah akupun tak tahu apa artinya saat itu. Aku sangat merindukan mbah buyutku. Siang nanti aku, dan kedua orang tuaku akan pergi ke makam mbah buyutku sekedar menziarahi beliau karena saat mbah buyut di makamkan kami tidak bias pergi ke Kediri karena kesibukan ayahku.
“ Riaa….. bagunnn sudah siang ini…. “ Teriak ibuku sambil di iringi bunyi ketukan pintu yang amat keras..
“ iya bu… ria udah bangun…. “ teriakku dan segera ku mengahmpiri pintu tua itu segera ku buka. Berlahan dan kuliaht ibuku sudah berdiri di depan pintu
“ cepetan mandi kita mau ke makam mbah buyutmu…, jangan terlalu siang nanti panas…” ucap ibuku dan di berikanlah handuk kepadaku.
“iya bu.. “ Jawabku pelan.
Akupun segera berjalan menuju kamar mandi. cukup dingin udara di Kediri yang biasanya aku mandi biasa berlama-lama sekitar setengah jam di kamar mandi tetapi tidak saat ini. Aku hanya mandi sekitar 3 menitan saja karena hawa dingin.
Setelah mandi aku segera mengganti bajuku dan telah kulihat bapakku duduk bersama pak lek supardi dan kulihat juga mereka berdua sedang meminum kopi sembari ngobrol – ngobrol.
“ Ria sini …. “ panggil pak lek supardi.
“ Iya pak lek “ aku segera berjalan menuju kursi ruang tamu yang amat sederhana itu.
“ gini,, ria.. sebelum meninggal mbah buyutmu sempat menulis sebuah surat wasiat. Almarhumah mbah buyut meminta untuk suratnya di bacakan setelah semua keluarga berkumpul termasuk kamu, dan mbak yu ningsih berkumpul, nah…. Pak Lek dan ayahmu sudah setuju akan membacakan wasiat ini setelah kita pulang dari makam mbah buyutmu… apapun wasiat dari mbah buyutmu harus kita laksanakan karena ini sebuah wasiat“ ucap pak lek pardi sambil menenteng sebuah amplop besar berwarna coklat.
“ iya pak lek pardi… “ jawabku.
“ udah ayo berangkat keburu siang mas… “ tante eni nyeletuk dari kamarnya dan di iringi ibuku.
Kamipun segera bergegas menuju pemakaman mbah buyut yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.
Jalan pagi di Kediri masih sangat sepi, kami berjalan kaki menuju makam mbah buyut yang ada di TPU kapur sirih yaitu hanya sekitar 5 M dari rumah mbah buyut. Terlihat banyak ibu-ibu yang sedang berbelanja kepada tukang sayur keliling, tante eniun sempat berbincang-bincang dengan salah satu ibu-ibu yang kebetulan saya sangat kenal sekali yaitu ibu umi, beliau adalah pimpinan sanggar seni jaranan Safitri Putro yaitu seni tari jaranan terkenal di Kediri, dahulunya mbah buyutku adalah pengurus Sanggar seni Tersebut, setelah meninggal mbah buyutku di gantikan oleh bu umi.
Akhirnya kamipun sampai di pemakaman mbah buyut, pak lek supardi segera membaca do’a do’a dalam hati, ayahkupun seperti itu, akupun berada di samping ayahku ikut membacakan do’a keada mbah buyutku, aku teringat saat-saat sama mbah buyut, terasa ada yang mengganjal di hatiku. Tai aku tak tahu perasaan apa itu.
Bersambung
Sabtu, 27 Februari 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
